|
Mengharap RTRW yang Partisipatif |
|
|
|
|

Pontianak, Gemawan - Tanah menjadi sumber utama untuk menentukan Rancangan tata Ruang Wilayah (RTRW). Dalam rancangan RTRW ini terkandung struktur ruang dan pola ruang. Struktur ruang ini merupakan susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Sedangkan pola ruang terkandung distribusi peruntukan ruang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya.
Penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi. Persoalan yang timbul dalam penataan ruang ini adalah rancangan RTRW hanya memuat tata struktur secara global dimana wilayah dinilai sebagai lahan basah untuk perkebunan skala besar. Tidak adanya angka matematis tata pola ruang yang mengisi rancangan RTRW provinsi seperti perkebunan karet rakyat, wilayah lahan pangan, dan wilayah yang dijadikan fungsi lindung serta fungsi budidaya.
|
|
Selanjutnya...
|
|
LOKAKARYA RENCANA TATA RUANG WILAYAH KALIMANTAN BARAT |
|
|
|
|

Pontianak, Gemawan – Lokakarya Status dan posisi lahan masyarakat lokal/ adat dalam pelaksanaan penataan ruang Provinsi Kalimantan Barat, Aula Hotel Kapuas Dharma, Pontianak (30-31/1). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Gemawan, Aidenvironment dan Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif (JKPP). Hadir sebagai narasumber dalam lokakarya ini adalahChaerudin Mangkudisastra, M.Sc dari Direktorat Perencanaan Kawasan Hutan Ditjen Planologi Kehutanan, dan Ir. Tangkas Pandjaitan, M.Agr.Sc, Direktorat Perluasan dan Pengelolaan LahanKementerian Pertanian.
Lokakarya ini dihadiri sekitar 40 peserta dari elemen jaringan NGO yang ada di Kalbar. “Tujuan dari lokakarya ini untuk memperluas akses informasi atas pelaksanaan penataan ruang di provinsi Kalimantan Barat dan merumuskan rekomendasi strategis terkait advokasi kebijakan tata ruang untuk rakyat di provinsi Kalimantan Barat” jelas M. Lutharif panitia pelaksana Lokakarya.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
AKSI DAMAI FPR KALBAR, MENDORONG REFORMASI AGRARIA SEJATI |
|
|
|
|
Kamis, 12 Januari 2012 09:14 |
|
“Hentikan Perampasan Tanah Rakyat, Wujudkan Reforma Agraria Sejati”
PONTIANAK, GEMAWAN - Sejumlah aliansi masyarakat, pemuda dan NGO yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat Kalimantan Barat (FPRK) melakukan aksi damai di Mapolda Kalbar, DPRD Provinsi dan Kantor Gubernur, Kamis (12/1). Aliansi Front Perjuangan Rakyat Kalimantan Barat ini terdiri dari Formalak, FMN, IMM, GMNI, GMKI, HMPPDK, BARA Kalbar, IPMHA, IMDP, DPM Untan, PMII, KAMMI, STKR, JMKB, KNPS, Walhi, AMAN KAlbar, JKPP, Pancur Kasih, Lembaga Gemawan, ID, PPSDAK, LBBT, Riak Bumi, Elpagar, yayasan Lembah, Lanting Borneo, Cassia Lestari, OR Bumbun lestari Batu Ampar dan Desa Tanjung Harapan.
Demonstran berkumpul dibundaran degulis Untan pukul 08.00 dengan melakukan orasi dan penyebaran selebaran. Pada pukul 09.00 rombongan aksi melakukan longmarch ke Kapolda untuk menyampaikan pernyataan sikap. Sekitar 30 menit rombongan melanjutkan aksi ke Kantor DPRD Provinsi.
Setibanya di Kantor DPRD rombongan aksi disambut oleh perwakilan Komisi B. Didepan komisi B, Korlap aksi Margaretha Conny, dengan suara lantang menyampaikan pernyataan sikap bersama. “Kami Front Perjuangan Rakyat Kalimantan Barat menuntut:
|
|
Terakhir Diupdate Jumat, 13 Januari 2012 05:26 |
|
Selanjutnya...
|
|
DAMPAK SOSIAL DARI KELAPA SAWIT DI BORNEO |
|
|
|
|
Rabu, 23 November 2011 06:44 |
|
Oleh Rhett A. Butler
Dari kebanyakan sejarahnya, Borneo jarang ditinggali oleh manusia. Iklim yang tak bersahabat dan lebatnya hutan hujan membuat populasinya kecil dan menyebar. Namun setengah abad ini semua telah berubah. Pengaruh dari masuknya setengah juta transmigran ke Borneo selama 30 tahun ini telah melipatgandakan populasi pulau tersebut dan memunculkan besarnya kebutuhan kerja. Awalnya industri karet dan penebangan kayu menyediakan lapangan pekerjaan, tapi ketika runtuh di pertengahan (Malaysia) hingga akhir (Indonesia) 1990an, kesempatan kerja ikut menghilang bagi kebanyakan penduduk lokal. Walau bagitu, ratusan pendatang baru terus muncul di Borneo setiap minggunya.
Meningkatnya pengangguran adalah masalah yang serius di Borneo pada akhir 1990an dan awal 2000an dan konflik etnis mengamuk di bagian-bagian Kalimantan pada saat itu. Munculnya kelapa sawit di akhir 1990an dan awal 200an dilihat sebagai kesempatan baru bagi penduduk dan pemerintah lokal. Pengamat saat ini hanya melihat biaya total yang harus dibayar akibat pertumbuhan cepat dalam sektor ini.
|
|
Selanjutnya...
|
|